bacasaja.info Termasuk Joko Widodo, sejak merdeka Indonesia telah memiliki 7 Presiden. Namun, ada dua tokoh yang dianggap sebagai presiden Indonesia yang terlupakan. Siapa saja mereka?

Sejak kemerdekaannya, Indonesia telah memiliki 7 presiden.

Mulai dari Ir. Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono, hingga yang teranyar Joko Widodo.

Namun, tanpa banyak diketahui, ada dua tokoh yang dianggap sebagai Presiden Indonesia yang terlupakan.

Kedua tokoh ini yakni Syafruddin Prawiranegara dan Mr. Assaat.

Bagaimana kisahnya sehingga kedua tokoh ini dianggap sebagai presiden Indonesia yang terlupakan?

1. Syafruddin Prawiranegara

Sebagaimana dikutip Historia.id, kala itu pemerintahan RI yang dipimpin Soekarno memindahkan ibu kota RI dari Jakarta ke Yogyakarta.

Akan tetapi, pada agresi militer Belanda II, pemerintahan RI di Yogyakarta berhasil dilumpuhkan.

Dalam situasi tanpa pemimpin, Indonesia menginginkan untuk menjaga eksistensi di mata dunia.

Kemudian didirikanlah Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Bukit Tinggi, Sumatera Barat atas inisiatif Syafruddin Prawiranegara.

Dalam makalah Mr. Sjafruddin Prawiranegara (1911-1989): Sang Penyelamat Eksistensi Negara Proklamasi Indonesia, Mumuh Muhsin menulis:

“PDRI bukan saja membantu menopang modal semangat juang, tetapi juga membuat Belanda lebih sulit lagi menghindari tanggapan-tanggapan terhadap tindakan-tindakan yang hendak diajukan oleh PBB.”

Inisiatif Syafruddin membentuk PDRI berbuah manis lantaran pihak lain mengakui serta menaatinya.

Namun, dalam mendirikan PDRI, Syafruddin tidak menamai dirinya ‘presiden’ melainkan ketua.

Alasan itu pun kemudian dikemukakan olehnya dalam harian Pelita bertitimangsa 6 Desember 1978.

Pasalnya, beliau belum mengetahui mandat dari Presiden Soekarno.

Andai ia mengetahui mandat dari Soekarno, tanpa ragu dirinya akan menggunakan istilah Presiden Republik Indonesia.

2. Mr. Assaat

Mr. Assaat lahir di Jorong Pincuran Landai, Kenagarian Kubang Putih, Agam, Sumatera Barat pada 18 September 1904.

Ia sempat bersekolah di sekolah kedokteran School tot Opleiding van Indlandsche Artsen (STOVIA).

Namun, karena tidak berminat di bidang kedokteran, ia pun pindah ke sekolah tinggi hukum Rechtshogeschool (RHS).

Setelah menamatkan studinya di Belanda, ia sukses memperoleh gelar meester in de rechten (Mr).

Sekembalinya ke tanah air pada tahun 1939, Mr. Assaat mulai banyak terlibat dalam kegiatan organisasi pergerakan.

Ketika Soekarno menjabat sebagai Presiden dan Mohammad Hatta menjadi Perdana Menteri Republik Indonesia Serikat (RIS), maka Mr. Assaat menjadi pejabat Presiden untuk sementara waktu.

Ia bertugas untuk memimpin pemerintahan RI ketika negara ini resmi mengadopsi bentuk serikat.

“Mr. Assaat sebagai Presiden RI, dan Ir. Soekarno sebagai Presiden RIS,” tulis Ahmad Mansyur Suryanegara dalam Api Sejarah 2.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here