bacasaja.info Bom bunuh diri yang diduga dilakukan oleh pelaku  kelompok teroris Jamaah Ansharut Daulah (JAD) meledak dengan kekuatan besar di depan gereja Katedral, Makassar, Sulawesi Selatan pada Minggu (28/3) pagi.

Dalam insiden teror itu, dua pelaku bom bunuh diri tewas. Mereka terdiri dari satu orang laki-laki dan satu perempuan. Selain itu, seorang satpam gereja turut menjadi korban dan mengalami luka-luka akibat mengadang pelaku memasuki area gereja.

“Pelaku merupakan bagian dari kelompok JAD yang pernah melakukan pengeboman di Jolo Filipina,” kata Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo saat mendatangi tempat kejadian perkara (TKP) tadi malam.

Peristiwa itu pun mengakibatkan 20 orang mengalami luka-luka, terdiri dari masyarakat dan petugas keamanan gereja. Diketahui, ledakan terjadi sekitar pukul 10.20 WITA, atau pasca-misa kedua berlangsung. Sebagian umat yang mengikuti ibadah sudah pulang ke rumah masing-masing.

Sesaat setelah insiden, polisi turun untuk berjaga dan menyisir sejumlah titik di lokasi kejadian. Tim dari Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) juga diterjunkan untuk memeriksa pelbagai temuan di lokasi kejadian.

Kadiv Humas Polri, Inspektur Jenderal Argo Yuwono membeberkan bahwa pelaku meledakkan diri sembari mengendarai sepeda motor dengan nomor polisi DD 5984 MD. Keduanya ingin memasuki area gereja ketika melihat banyak umat yang telah selesai beribadah keluar.

Dari hasil olah TKP sementara, ditemukan bahwa kendaraan tersebut telah hancur. Kemudian, terdapat juga beberapa potongan tubuh yang diduga dari pelaku pengeboman ini.

“Tentunya kami harus mengetahui persis dari barang bukti, alat bukti yang ditemukan dan keterangan saksi. Anggota masih bekerja dan kami masih evaluasi,” kata Argo dalam konferensi pers siang kemarin pascaledakan.

Terpisah, Deputi VII Badan Intelijen Negara (BIN) Wawan Purwanto membeberkan bahwa pelaku memang dalam pengejaran aparat keamanan. Indikasi kegiatan terorisme di Makassar, kata dia, telah tercium sejak 2015.

“Memang dalam pengejaran aparat keamanan. Masih ada beberapa yang belum tertangkap dan terus dalam pengejaran,” kata Wawan saat dikonfirmasi CNNIndonesia.com, Minggu (28/3).

Dia menerangkan bahwa puluhan tersangka teroris JAD yang ditangkap oleh Densus 88 Antiteror Polri pada awal Januari lalu juga berkaitan. Kata dia, mereka pun telah terendus akan melakukan aksi bom bunuh diri.

Diketahui, dalam penangkapan itu polisi menembak mati dua orang teroris yang menjadi fasilitator buron Andi Baso –pengebom Gereja Oikumene, Samarinda beberapa tahun lalu. Kemudian, mereka juga terlibat dalam aksi pengeboman gereja di Jolo, Filipina pada 2019

“Penangkapan sejumlah pelaku teroris di Makassar yang sebagian merupakan anggota dan simpatisan dari eks ormas tertentu terus didalami,” ucapnya.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Boy Rafli Amar mengatakan ada kemiripan ideologi antara pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar dengan tiga bom bunuh diri di Surabaya pada 2018 lalu.

Hanya saja, dia menekankan bahwa insiden tersebut bukan merupakan bentuk kecolongan dari lembaganya. Menurut dia, kejahatan terorisme bisa terjadi secara dinamis sehingga tak mudah dideteksi.

“Ya, setidak-tidaknya cara berpikir pelaku dan sikap pelaku memiliki semacam kemiripan [dengan pelaku bom bunuh diri di Surabaya]. Pelaku bisa memiliki kesamaan pemahaman dalam hal ideologi,” tutur Boy.

Boy mengungkapkan, para teroris ini mencari kesempatan untuk melakukan aksi. Belum lagi, terorisme sendiri digolongkan sebagai extra ordinary crime atau kejahatan luar biasa.

Hingga saat ini, pemerintah belum mengungkap teror bom bunuh diri tersebut merupakan gerakan secara berkelompok atau hanya dilakukan oleh para pelaku secara independen.

Namun demikian, Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Mahfud MD berjanji bahwa pihaknya akan membongkar jaringan pelaku teror itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here