bacasaja.info Diwaktu Babad Tanah Jawi diceritakan, Syekh Jumadil Qubro, dan kedua anaknya, Maulana Malik Ibrahim dan Maulana Ishak bersama sama datang ke pulau Jawa. Setelah itu mereka berpisah, Syekh Jumadil Qubro tetap di pulau Jawa, Maulana Malik Ibrahim ke Champa, Vietnam Selatan, dan adiknya Maulana Ishak mengislamkan Samudra Pasai.

Di Kerajaan Champa, Maulana Malik Ibrahim berhasil mengislamkan Raja Champa, yang akhirnya mengubah Kerajaan Champa menjadi Kerajaan Islam. Ia dijodohkan dengan putri raja Champa (adik Dwarawati), dan lahirlah Raden Rahmat. Di kemudian hari Maulana Malik Ibrahim hijrah ke Pulau Jawa tanpa diikuti keluarganya.

Dalam sumber lokal seperti Walisana Hardjawidjaja duceritakan bahwa, Raden Rahmat adalah putra Syaikh Ibrahim as-Samarkandi yang berasal dari Arab. Beliau merupakan keturunan Rasulullah SAW, menantu Raja Champa, dan tokoh Wali Songo tertua yang melakukan pengembangan Islam di Tanah Jawa dan tempat lain di Nusantara.

Dalam Babad Tanah Jawi dan Badur Wanar menyebutkan bahwa ibu Raden Rahmat bernama Dewi Condro Wulan, namun dalam Suluk Walisana menyebutkan bahwa nama ibunya adalah Retno Dyah Siti Asmara, dan menurut berbagai tradisi lokal, nama ibunya adalah Retno Sujinah.

Dalam historiografi lokal disebutkan bahwa Raden Rahmat datang ke Jawa bersama saudara tuanya yaitu Ali Murtadho. Menurut Suluk Walisana, Babad Demak Pesisiran dan sejarah Banten, Raden Rahmat menginjakkan kaki di Nusantara sekitar abad ke-15 pada awal dasawarsa keempat, tepatnya di Majapahit.

Ketika Arya Damar menjabat sebagai Adipati Palembang, di sana beliau menjadi tamu. Menurut Thomas W. Arnold dalam bukunya The Preaching of Islam (1977), beliau berada di sana selama dua bulan. Selama itu, beliau mengenalkan ajaran Islam kepada adipati.

Adipati tertarik dengan ajaran Islam, namun adipati tidak ingin mengambil resiko dengan menghadapi masyarakat. Maka, beliau pun masuk Islam dengan diam-diam. Namun, di dalam buku Serat Walisana dan Serat Darmogandul menyatakan bahwa adipati dan rakyatnya masuk Islam.

Versi lain menceritakan, Sunan Ampel (Raden Rahmat) datang ke pulau Jawa pada tahun 1443, untuk menemui bibinya, Dwarawati. Dwarawati adalah seorang putri Champa yang menikah dengan raja Majapahit yang bernama Brawijaya V atau Prabu Kertawijaya.

Sunan Ampel menikah dengan Nyai Ageng Manila, putri seorang adipati di Tuban yang bernama Arya Teja. Mereka dikaruniai 4 orang anak, yaitu, Putri Nyai Ageng Maloka , Maulana Makdum Ibrahim ( Sunan Bonang), Syarifuddin ( Sunan Drajat dan Syarifah, yang merupakan istri dari Sunan Kudus.

Molimo, Moh (tidak mau), limo (lima), adalah falsafah dakwah Sunan Ampel untuk memperbaiki kerusakan akhlak di tengah masyarakat pada zaman itu yaitu, Moh Mabok: tidak mau minum minuman keras, khamr dan sejenisnya. Moh Main: tidak mau main judi, togel, taruhan dan sejenisnya. Moh Madon: tidak mau berbuat zina, homoseks, lesbian dan sejenisnya. Moh Madat: tidak mau memakai narkoba dan sejenisnya. Moh Maling: tidak mau mencuri, korupsi, merampok dan sejenisnya.

Raja Majapahit, Sri Kertawijaya dan istrinya, Dwarawati yang juga bibi Rahmat. Raja Majapahit itu menghadiahkan tanah perdikan kepada Rahmat di Ampel Denta, Surabaya.

Ia mengembangkan pesantren dan pusat keilmuan. Dalam waktu singkat, ia bisa mengembangkan basis-basis Islam di beberapa kadipaten.

Lalu Sri Kertawijaya dikudeta oleh Rajasawardhana sebagai raja. Sunan Ampel membentuk dewan Walisanga sekitar 1474 M .

Mereka antara lain, Hasan, Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang), Qosim (Sunan Drajad), Usman Haji (ayah Sunan Kudus), Raden Ainul Yaqin (Sunan Gresik), Syekh Suta Maharaja, Raden Hamzah dan Raden Mahmud. Beberapa tahun kemudian, Syarif Hidayatullah dari Cirebon dan Sunan Kalijaga bergabung. Pada tahun 1479 Sunan Ampel mendirikan masjid Agung Demak.

Salah satu peninggalan lain Sunan Ampel adalah Masjid Rahmat di daerah Kembang Kuning, Surabaya. Konon ceritanya, saat Raden Rahmat mendapat restu dari Prabu Brawijaya untuk tinggal di Ngampeldenta, Surabaya. Sebelum sampai di tujuan, ia sempat beristirahat dan tinggal di daerah Kembang Kuning.

Selama berada di Kembang Kuning, Raden Rahmat mendirikan rumah dan masjid. Ada yang mengindentikkan perjalanan Raden Rahmat dari pusat kerajaan Majapahit ke Ngampeldenta, seperti Nabi Muhammad hijrah dari Mekah ke Madinah.

Rasulullah Muhammad SAW, sebelum sampai di kota Madinah berhenti dulu dan tinggal di Quba. Di kota yang jaraknya sekitar 5 kilometer dari Madinah itu, nabi membangun masjid pertama, yakni Masjid Quba.

Sedangkan Raden Rahmat sebelum sampai di Ngampeldenta, singgah dan membangun masjid di Kembang Kuning. Sampai sekarang masjid peninggalan Raden Rahmat itu masih ada di Kembang Kuning yang diberi nama Masjid Rahmat. Letaknya, juga sekitar 5 kilometer dari daerah Ampel.

Sunan Ampel diperkirakan wafat pada tahun 1481 di Demak dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampeldenta, Surabaya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here