bacasaja.info Satgas Nemangkawi juga jadi sasaran hoax atau berita bohong. Tak hanya menjadi sasaran tembak teroris kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Papua.

Salah satu berita bohong yang muncul terkait penyerangan ke gereja Kingmi Kabuki dan menembak tiga orang perempuan.

Kasatgas Humas Operasi Nemangkawi Kombespol M. Iqbal Alqudussy menuturkan bahwa tidak ada penyerangan ke gereja dan penembakan ke tiga perempuan. ”Saya saat ini berada di Ilaga, tidak ada penyerangan itu. Saya bersama Dandim dan Kapolres sudah memastikan semuanya,” paparnya.

Dia berharap agar masyarakat tidak terprovokasi dengan hoax tersebut. Apalagi, terdapat media yang selama ini ternyata mendukung KKB. ”Kami pastikan penegakan hukum akan dilakukan tegas dan terukur,” paparnya dalam keterangan tertulisnya.

Operasi Newangkawi di Papua dilaksanakan sejak 2018. Selain penegakan hukum, juga dilaksanakan operasi kemanusiaan melalui Binmas Noken Polri. Karena itu, dia menyatakan tidak mungkin aparat keamanan menyerang masyarakat. Sebab, mereka datang untuk melindungi masyarakat dari aksi-aksi KKB.

Berdasar catatan Polri, sepanjang 2019, tidak kurang 23 aksi teror penembakan dilakukan KKB di sejumlah kabupaten di wilayah pegunungan Papua. Dari aksi tersebut korban meninggal mencapai 20 orang. Terdiri atas sepuluh masyarakat sipil, delapan TNI, dan dua anggota Polri. Kemudian tahun lalu, aksi teror penembakan oleh KKB naik signifikan menjadi 46 kasus. Korbannya lima masyarakat sipil meninggal dunia, dua anggota Polri gugur, dan dua personel TNI juga gugur. Tahun ini, KKB juga kian intensi melakukan sejumlah teror.

Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) III pun menyatakan bahwa langkah intens dan terukur yang dilakukan oleh TNI – Polri pasca KKB ditetapkan sebagai organisasi teroris membuat kelompok itu kian tersudut. Kepala Penerangan (Kapen) Kogabwilhan III Kolonel Czi I. G. N. Suriastawa mengungkapkan bahwa sejumlah pentolan KKB yang biasa beraksi di Kabupaten Puncak, Papua berhasil dilumpuhkan. Ada pula yang ditangkap dan menyerahkan diri.

Kondisi itu, lanjut Suriastawa, direspons KKB dengan menyebar kabar bohong. Salah satunya kabar soal penembakan oleh aparat keamanan terhadap tiga perempuan di Kabupaten Puncak. “Berita tersebut fitnah dan hoaks atau bohong,” ungkap dia. Menurut dia, hal itu memang biasa dilakukan oleh KKB untuk memojokan aparat keamanan. Mereka bahkan tidak jarang memutar balik fakta dengan menyebut korban masyarakat sipil sebagai anggota TNI atau Polri. Menurut Suriastawa, kabar bohong yang belakangan dimunculkan sengaja disebar oleh pendukung KKB demi perhatian publik.

Bagian lain, Juru Bicar Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) Sebby Sambom mengklaim bahwa serangan TNI dan Polri telah mengarah ke perkampungan penduduk.

”Serangan menggunakan tiga helicopter dengan menjatuhkan 40 bom roket,” paparnya. Dari serangan itu, dia mengaku bahwa tidak ada anggotanya yang tertembak atau terluka. Namun, akibat seringnya terjadi baku tembak, maka warga melakukan pengungsian ke Timika dan Nabire. ”Sebagian ke Ilaga mengungsi di rumah kepala dinas sosial,” ujarnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here